Perbedaan Programmer Otodidak dan Lulusan Informatika

June 20th, 2007 by azakharie

Pernahkah anda punya rekan yang bisa pemrograman komputer tapi tidak
berlatar belakang informatika/sejenisnya? Saya punya. Mulai dari
programmer yang copy paste source code sampai dengan yang mampu bikin
class sendiri juga ada. Disisi lain saya juga memiliki teman dengan
latar belakang informatika namun kemampuan codingnya sama seperti rekan
saya yang otodidak, bahkan ada yang mengaku lulusan informatika namun
tidak mampu melakukan coding program.

Saya punya teman, pintar, logic programmingnya oke, menguasai lebih
dari satu bahasa pemrograman selain itu proses codingnya juga cepat.
Kalo disuruh misalnya “Gue butuh program bla.. bla.. bla.., elo bisa buat?” dia langsung jawab “Bisa!”. Tapi, giliran disuruh bikin ER Diagram ataupun DFD dia bingung harus mulai darimana.

Lalu timbul pertanyaan saya, kenapa masih ada lulusan informatika
bisa dikalahkan oleh orang-orang otodidak dalam pemrograman? sebegitu
mudahkah menjadi seorang programmer? apakah hanya dengan mengetahui
logika pemrograman dan syntax-nya maka sudah menjadi seorang
programmer? Lalu apa yang membedakan programmer lulusan teknik
informatika dan yang otodidak?

Berdasarkan pengalaman saya bertemu dengan programmer otodidak,
hampir sebagian besar mengerti pemrograman namun tidak diawali dengan
belajar teori-teori dasar pemrograman. Biasanya hal itu akan dipelajari
sambil berjalan seiring dengan mencoba beberapa baris kode. Sedangkan
dalam dunia pendidikan, AFAIK, sebelum coding diharuskan mengerti terlebih dahulu teori-teori dasar seperti misalnya DFD, ER Diagram, bit, Byte dan lain sebagainya, baru nanti akan melangkah ke pemrogramannya.

Jika anda programmer terlepas apapun latar belakangnya tentu pernah mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

  • Penggunaan beberapa fungsi-fungsi sejenis yang terkadang
    membingungkan dalam penggunaannya. Seperti misalnya kapan harus
    menggunakan str_replace dan kapan menggunakan ereg_replace atau kenapa harus strstr daripada preg_match() dalam PHP?
  • Jika berhubungan dengan field-field database pernahkah penentuan
    type field berdasarkan alasan yang jelas? Seperti misalnya kenapa harus
    bigint daripada int atau langsung comot yang paling besar? *mysql style*
  • Kenapa harus ADO daripada DAO untuk melakukan koneksi ke database *Lha, masih pake VB 6.0?

Jujur, untuk hal-hal seperti itu kadang saya harus buka buku lagi,
ya maklumlah namanya juga programmer pemula dan otodidak pula *ngeles*.

Berkaca dari contoh kasus diatas, lalu apa yang seharusnya
membedakan antara programmer otodidak dan programmer berlatar belakang
informatika?

Menurut saya yang memiliki latar belakang informatika harus bisa
mengungguli yang otodidak dengan menguasai teori-teori dasar ini.
Kemampuan seperti menyusun ER Diagram, DFD, bit, Byte, alokasi memori
dan hal-hal lainnya harus bisa dikuasai oleh yang berlatar belakang
informatika. Bahkan akan lebih bagus jika programmer berlatar belakang
informatika mampu menguasai itu semua namun dapat menjelaskannya dengan
bahasa yang mudah dimengerti oleh orang lain. Bukan tidak mungkin
programmer otodidak akan mempelajari hal seperti itu mengingat
resources pemrograman sangat banyak beredar di internet. Ini tantangan
yang akan dialami oleh lulusan informatika khususnya para programmer.

sumber :http://dgk.or.id/archives/2005/12/16/perbedaan-programmer-otodidak-dan-lulusan-informatika/

Menghindari 20 Kesalahan Terbesar Dalam Bidang TI

March 1st, 2007 by azakharie

Kami menyarikan gelombang informasi yang berurutan menjadi
daftar 20 kesalahan terbesar – contohnya dalam kesalahan dalam mengambil
keputusan yang dapat mengarah menjadi sekumpulan proyek penting, kekeliruan
bisnis, dan dalam kasus terburuk, kehilangan pekerjaan.

1. Kesalahan strategi outsourcing Anda

Kesalahan yang berhubungan dengan outsourcing sangat mudah
masuk ke dalam daftar top 20 ini.

Ada

2 bagian penting di dalamnya. Pertama adalah termasuk bidang kejahatan, di mana
outsourcing penting bagi fungsi TI untuk menangkal kesulitan dalam memahami
kegiatan ini. Penolakan fungsi tersebut mengakibatkan timbulnya kesulitan untuk
proses realisasinya.

Kesalahan lainnya berhubungan dengan fungsi yang dapat
dibuat dengan cara outsorce, namun mudah dan efektif, seperti menjalankan
lingkungan messaging Anda. Perusahaan TI yang mengeluarkan prasangka umum
melawan proses outsourcing dapat memicu munculnya bahaya (bagi dirinya
sendiri).

2. Penghentian open source – atau melakukannya terlalu
dini

Software open source intinya lebih baik ketimbang software
komersil; ini bergantung dari masalah yang harus dipecahkan dan kematangan
solusi tersebut untuk mempercayainya.

3. Pembukaan cabang

Biaya pembukaan cabang hanya 20% lebih murah dibanding
jika dilakukan di negara asal (contohnya: AS). Terkait masalah budaya, waktu
yang dibutuhkan lebih banyak daripada yang dibayangkan, untuk memastikan
komitmen dari aturan negara asal dalam hal pembukaan cabang tersebut. Hasil
yang didapat dari pembukaan cabang di negara lain itu, ternyata lebih kecil
untuk setiap sektornya. Pimpinan perusahan sebelumnya beranggapan bahwa
pengaturan TI secara lokal dan penghematan biaya akan sangat dramatis sekali
dibanding yang bisa Anda bayangkan. Kenyataannya ternyata tidak demikian.

4. Reduksi tekanan internal security

Manajer TI berfokus ke dirinya sendiri untuk menyikapi
gangguan keamanan. Bahkan aksi kejahatan kerap muncul dengan memanfaaatkan
kerumitan teknologi yang ada. Namun, manajemen identitas dengan aturan
perijinan yang khusus ternyata dapat mengatasinya.

5. Penghentian usaha untuk mengamankan parameter solusi

Dewasa ini tanggung jawab TI adalah mengembangkan bidang
ini hingga seluas-luasnya. Peningkatan mobilitas pekerja, dikombinasikan dengan
pembuatan hotspot nirkabel untuk umum dan pita lebar di ruangan tertutup
berarti, bahwa TI sekarang ini memadai untuk sistem yang aman pada jaringan
yang tidak hanya meliputi kontrol. Dalam lingkungan ini, keamanan yang kuat
sama dengan pengimplementasian firewall berbasis host yang dapat menyediakan
perlindungan berlapis terhadap jaringan pita lebar yang tidak aman di rumah
dengan akses Wi-Fi umum.

Sebagai manajer TI, Anda dapat mengkonfigurasikannya
dengan memblokir semua lalu lintas yang masuk, kecuali port 25 untuk penerimaan
e-mail, yang selanjutnya bawahan Anda secara general menggunakan sambungan WAN
ke web melalui port 80 dan 443. Hal ini merupakan aksi gabungan, namun dalam
banyak lingkungan TI yang terpisah, pendekatan terpusat untuk keamanan jaringan
tidak mencukupi kebutuhan. Pada pengenkripsian lalu lintas dalam LAN internal
Anda, lebih baik untuk melindungi jaringan Anda terhadap tekanan yang berasal
dari dalam dan dari penyerang yang mungkin menyusup ke jaringan Anda melalui
akses nirkabel ilegal.

6. Penolakan security untuk handheld

Manajer TI berpengalaman pun menyadari akan pentingnya
peggunaan otentifikasi username/password pada jaringan dan desktop yang
tersedia serta pada PC laptop. Sementara itu, sebagian besar penjual di bidang
TI masih terlihat berada dalam fase “wild West”, jika menyangkut peranti
handheld.

Dalam sebuah kasus, minoritas perangkat yang tidak
membutuhkan password, memiliki implikasi yang besar. Penolakan terhadap
keamanan dari perangkat yang mudah hilang, intinya merupakan bagian dari kunci
utama lalu lintas tersebut dalam informasi yang dianggap penting, dimana hal
ini merupakan sebuah resep untuk melahirkan kesalahan.

7. Promosi orang yang salah

Management training dapat menghalau timbulnya bahaya
semacam itu. Namun, gunakan jaringan Anda, baik bila kemampuan itu ada, atau
sebaliknya.

8. Penanganan yang salah dalam manajemen perubahan 

Perubahan manajemen merupakan hal yang biasa. Semuanya
dimulai dari atas. Jika manajemen TI memutasi pimpinannya, bawahannya juga
mendapatkan nasib serupa.

9. Salah pengaturan dalam pengembangan software

Jika struktur software bisa terbagi menjadi hal yang mudah
dikendalikan dalam waktu yang sama, perbedaan produktifitas besar antara
pembuat kode hebat dan orang biasa, manajer TI paling tidak harus mendapatkan
hasil kerja yang paling baik. Namun yang lebih berbakat, seperti programer,
dapat melakukannya dalam waktu yang lebih singkat.

Manajer TI harus memanfaatkan waktu senggangya untuk
(menemukan) orang yang tepat guna bekerja buat perusahaannya. Pasalnya, pegawai
yang berkualitas merupakan aset terbesar demi kelangsungan suatu perusahaan.

10. Pengeluaran ijin bagi para insinyur untuk melakukan QA
(Quality Assurance-red) mereka sendiri

Tidak memberikan ijin kepada insinyur untuk melancarkan QA
miliknya sendiri, merupakan aksioma pengembangan software. Namun bagi tim yang
jumlah anggotanya sedikit, selalu ada godaan untuk menghalalkan segalanya.
Realitanya, terkadang pihak manajemen berkomplot dengan pengembang untuk
memungkinkan praktek tertentu. Mengijinkan insinyur untuk mewujudkan QA-nya,
sama saja seperti memberi kebebasan kepada seorang terdakwa yang menghakimi dan
memutuskan kasus yang telah mereka lakukan sendiri.

11. Pengembangan aplikasi Web hanya untuk IE

Faktanya, aplikasi penting melanjutkan aksinya dalam
menghadapi web browser dan bahwa Windows juga mendominasi bisnis desktop,
pengembang web harus menampik godaan untuk mengembangkan aplikasi hanya untuk
IE, walaupun telah mengalami perbaikan. Banyak perusahaan mungkin tidak dapat
menolak untuk tidak menggunakan IE. Namun jika Anda yakin dengan aplikasi kunci
Anda yang tidak hanya tergantung pada funsionalitas TI, maka Anda memiliki
kemudahan untuk beralih ke alternatif lainnya, seperti Mozilla dan Firefox. Ini
bisa berlangsung jika keamanan IE yang ada menjadi terlalu ofensif dan berisiko
untuk lingkungan TI Anda.

12. Kebergantungan pada performa jaringan tunggal

Jika menyangkut masalah jaringan, tidak ada satupun metrik
yang dapat digunakan untuk memutuskan kondisi jaringan.

Ada

indikasi bahwa adalah salah menganggap
bahwa operasi jaringan dapat dicakup oleh satu metode. Jika pihak manajemen
mempertanyakan tentang laporan operasi jaringan tunggal, TI biasanya
cepat-cepat mengirimkan metrik tunggal untuk keamanan jaringan yang tentu saja
sulit untuk dijabarkan.

13. Pita lebar yang dibutuhkan untuk jaringan

Lepas dari soal kapasitas, kasus utama tentang kelambatan
akses, adalah termasuk distribusi lalu lintas yang tidak dibutuhkan yang
melalui jaringan pusat sistem atau aplikasi terdahulu, seperti lalu lintas IPX,
atau adanya kesalahan konfigurasi atau bahkan terjadinya inefisiensi aplikasi
yang menyalurkan aliran paket ke jaringan pada jam-jam yang tidak tepat (jam
sibuK).

14. Pemberian ijin untuk password yang lemah

Sebagian besar kelemahan password-termasuk password yang
lemah dan sebenarnya tidak eksis, misalnya rekening pengguna yang diketahui
secara luas atau password yang ditampilkan secara nyata (bayangkan tentang
catatan kecil yang biasa ditempel di mana saja), rekening untuk urusan
administratif dengan password lemah dan diketahui secara umum dan algoritma
yang membingungkan password yang lemah atau yang terbuka itu, ternyata tidak
cukup aman atau dapat dilihat oleh semua orang. Menghindari kesalahan
otentifikasi membuat munculnya pemblokiran dan penghalauan IT secara sederhana
– sebuah password yang jelas, detail, dan harus konsisten membuat prosedur
bahwa kesepakatan proaktif dengan sebagian besar kelemahan otentifikasi yang
sering terjadi, sehingga terperinci dalam laporan SANS.

15. Jangan takut terhadap hal kecil

CTO dan CIO menyukai perbincangan tentang teknologi
aplikasi strategis, namun menghindari masalah taktis yang dapat mengarah ke
kesalahan kecil namun cukup berbahaya.

16. Utamakan solusi penting

Kesalahan yang sering muncul pada kasus manajer TI saat
mutasi ke posisi baru pada perusahaan baru pula, yakni mencoba memperkuat
solusi dan melakukan pendekatan yang bisa diterapkan pada tugas lamanya, dan
sekarang dalam lingkungan baru dengan pertimbangan bisnis dan teknologi yang
berbeda, juga melakukan hal serupa.

17. Kesampingkan teknologi yang menjanjikan

Masalah aktualitas dapat mencegah hal yang tidak
diinginkan, dimana munculnya titik akses nirkabel konsumer yang terjangkau
selama beberapa tahun terkahir ini memungkinkan semua orang dapat menjalankan
jaringan nirkabel tersebut. Ini merupakan masalah nyata untuk setiap lingkungan
TI perusahaan yang telah diatur secara rasional.

18. Mengeyampingkan PHP

Manajer TI yang sejauh ini hanya memperhatikan J2EE dan .Net
ketika mengembangkan aplikasi web yang dapat diskalasi, telah membuat kesalahan
dengan mengeyampingkan pilihan kedua, yakni scripting language seperti PHP.
Scripting language ini telah banyak digunakan dalam waktu satu dekade ini, dan
jutaan halaman Yahoo disajikan dengan PHP setiap harinya.

19. Pelanggaran prinsip KISS (keep it simple, stupid)

Pelanggaran prinsip KISS merupakan masalah sitematik bagi
TI. Pelanggaran prinsip ini langsung berakibat ke beberapa cabang usaha,
sehingga memunculkan kegagalan proyek, tinginya biaya TI, sistem yang tidak
dapat dipertahankan lagi, rendahnya kualitas, atau software yang tidak aman.

20. Jadi budak strategi pemasaran suatu perusahaan

Jika arahnya ke
perangkat jaringan, database, server, dan produk TI lainnya, istilah semacam
“enterprise” dan “workgroup” dikelompokkan menjadi produk yang berbeda, namun
mengingat seringnya istilah tersebut digunakan, maka kecil artinya jika hal itu
hanya menyangkut masalah karakteristik performa. Sebuah produk kerap diberi
label sebagai produk “workgroup”, karena memiliki kapasitas berlebih bahkan
untuk jangkauan enterprise.

 

 

Kiat Sukses Berprestasi

February 25th, 2007 by azakharie

Dalam
sebuah kantor atau perusahaan, ada saja karyawan yang belum memperoleh promosi
jabatan meskipun sudah bekerja dengan tekun, patuh, dan jujur. Semuanya telah
dikerjakan sesuai dengan standar kerja yang ditentukan.

Apa yang masih
kurang?

Sebenarnya,
karyawan macam ini lupa bahwa rekan-rekannya juga melakukan hal-hal serupa.
Kalau Anda termasuk di antara mereka, cobalah kiat untuk berprestasi lebih baik
berikut ini:

  • Bekerjalah lebih baik dari rekan-rekan Anda.
         Caranya, tingkatkan efisiensi dan produktivitas kerja Anda, serta tentukan
         skala prioritas dalam bekerja.
  • Perbesar daya kerja Anda dengan menghadapi
         pekerjaan dengan sikap mental positif dan perhatian penuh.
  • Bekerjalah lebih kreatif.
  • Lakukan penyesuaian diri dengan perubahan yang
         terjadi. Jangan terkejut bila sewaktu-waktu terjadi perubahan.
  • Tingkatkan wawasan serta keterampilan dalam
         bekerja dan berpikir.
  • Jangan mudah puas dengan hasil kerja yang
         telah dicapai.
  • Lakukan evaluasi terhadap hasil kerja
         Anda dan berikan tantangan untuk menghadapi tugas lebih berat.

Kepuasan kerja
akan diperoleh bila Anda mampu menyelesaikan tugas dengan mudah, benar, cepat,
dan tepat. Kondisi ini meningkatkan semangat kerja, sehingga memperbesar daya
kerja. Akhirnya, Anda akan lebih menguasai, efisien, produktif, dan terampil
dalam bekerja.

Oups, jangan lupa berdoa dengan keyakinan masing2 yach.

CIAOOOOOOOOOOOOOOO…………

Mengatasi RASA BOSAN Kerja

February 25th, 2007 by azakharie

Siapa pun
pasti pernah mengalami rasa bosan dan jenuh dengan pekerjaan. Entah mereka
sudah bertahun-tahun bekerja atau baru saja masuk ke dalam dunia kerja.

Ada banyak hal
yang menyebabkan seseorang bosan dengan pekerjaannya. Bisa karena monoton,
lingkungan kerja yang tidak kondusif, rekan kerja yang menyebalkan, atau ada
masalah pribadi
. Lalu terpikirlah, betapa menyenangkan kalau bekerja di
tempat lain.

Tapi, berpindah
pekerjaan bukanlah hal yang gampang. Selain itu belum tentu di tempat yang baru
kita akan bebas dari persoalan yang menyebabkan kebosanan dan kejenuhan. Bisa
jadi keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.

Nah, meski bosan
sedang melanda, Anda harus bersyukur bisa memperoleh pekerjaan. Apalagi saat
ini tidak mudah mencari pekerjaan.

Jadi,
lawanlah kebosanan itu dengan kiat-kiat berikut:

1.
Bersikap antusias

Bersikap antusias
bisa dilakukan dengan cara kita bekerja "seolah-olah menikmatinya",
sehingga pada waktunya kita benar-benar menikmati pekerjaan tersebut. Hanya
saja, kadang kita tidak bisa menikmati karena pekerjaan itu memerlukan waktu
lama dan jam kerjanya ketat. Ada cara sederhana untuk mengatasinya, semisal
dengan tersenyum atau berdiri tegap ketika merasa lelah.

Juga perlu diingat
bahwa kita bukanlah robot. Hanya saja, ketika bekerja pusatkan perhatian
sepenuhnya pada pekerjaan yang sedang kita lakukan. Istirahat dan liburan
memang perlu, tapi jangan dipikir ketika sedang bekerja.

2.
Lakukan yang terbaik

Meski pekerjaan
tidak menarik, kita harus melakukan yang terbaik. Mengapa? Karena jika kita
bekerja asal-asalan maka pekerjaan akan bertumpuk. Kalau sudah begitu, kita
semakin terbebani dan ada kemungkinan melakukan kesalahan. Salah berarti kita
harus bekerja dua kali atau lebih, sehingga kita menjadi jengkel yang bisa-bisa
bermuara ke stres.

Jadi, dengan
menyelesaikan suatu pekerjaan tepat waktu dan memberi prioritas kepada
pekerjaan yang terpenting, maka kita bisa memiliki waktu lebih. Menurut buku
The Joy of Working, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan menghasilkan
kepuasan batin. Untuk memperbaiki mutu pekerjaan, kita bisa menetapkan standar
dan tujuan baru agar bisa mengungguli diri kita sendiri.

3.
Memperindah pekerjaan kita

Biasanya pekerjaan
yang kita terima dari atasan disertai dengan rangka berisi aturan dan pedoman.
Jika kita melakukan pekerjaan tersebut sesuai juklak, maka tidak ada sentuhan
pribadi kita pada pekerjaan tersebut. Adanya sentuhan pribadi akan membuat
pekerjaan jauh lebih menarik. Karena bersifat pribadi, maka tidak ada aturan
baku untuk hal itu. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam memperindah
sesuatu. Misalnya, agar bisa menikmati pekerjaannya, seorang pelayan senang
menghapal pesanan pelanggan tetap, sementara yang seorang mungkin bersikap
lebih baik dan sopan.

4.
Teruslah belajar

Menurut buku
Tension Turnaround, otak meningkatkan kapasitasnya untuk memproses informasi
seraya kita bertumbuh. Untuk itu kita harus memuaskan keinginan otak kita akan
informasi baru dengan mempelajari hal-hal baru. Dengan belajar tentang
pekerjaan, kita akan sangat terbantu dalam membuat pekerjaan menjadi lebih
menarik dan memuaskan. Hal itu karena belajar bisa meningkatkan rasa percaya
diri dan kesanggupan kita serta mempengaruhi sikap secara umum terhadap kehidupan.

Banyak hal yang
bisa kita pelajari, terutama yang tidak secara langsung berhubungan dengan
pekerjaan. Misalnya hubungan antarmanusia, tentang peralatan pekerjaan kita,
cara menulis memo kantor yang lebih baik, memimpin rapat yang lebih efektif,
atau cara yang lebih baik dalam berurusan dengan atasan. Untuk mempelajari hal
itu mungkin perusahaan tempat kita bekerja memiliki anggaran khusus untuk
pelatihan semacam itu. Jika tidak, mengapa tidak memanfaatkan perpustakaan yang
ada di kantor? Bisa jadi ada buku-buku yang kita butuhkan.

Belajar juga bisa
melalui pengalaman orang lain. Kita bisa mengamati rekan sekerja mengenai
kekuatan dan kelemahan yang bisa kita jadikan bahan pelajaran. Bahkan dengan
belajar dari kesalahan atau keberhasilan kita sendiri, kemudian menganalisisnya
sehingga bisa melakukan hal-hal yang tepat di kemudian hari. Dengan melakukan
hal ini, kita bisa memperoleh pelajaran yang tidak mungkin bisa kita dapatkan
di sekolah ataupun dengan membaca.

Itulah beberapa hal
yang bisa dilakukan dalam memerangi rasa bosan terhadap pekerjaan. Singkirkan
pikiran negatif yang bisa membuat liburan kita terbebani oleh pekerjaan. Jangan
memikirkan kegagalan di masa lalu sembari mencemaskan pendapat orang tentang
diri kita. Berikan perhatian penuh pada pekerjaan, menjadi asyik dengannya, dan
melakukan upaya yang terbaik sehingga kita bisa merasakan suatu kegembiraan
karena telah menyelesaikan pekerjaan kita.